Saya selalu menyimpangan kepingan-kepingan cerita kesehatan. Entah ini untuk si princes, kinar atau untuk kesehatan keluarga saya. Sudah sejak lama pengin banget berbagi cerita dengan para blogger. Siapa tahu, dari cerita keluarga kami, ada sesuatu yh bisa dipetik atau dipakai keluarga sehat lainnya. Salah satunya tentang mata.
Sejak tiga hari yang lalu, keluarga kami disibukan dengan sakit mata. Orang jawa menyebutnya belekan. Belekan ini umumnya diawali dengan mata memerah. Saat bangun tidur, yang namanya belek atau tahi mata berlimpah di pelupuk mata.
Nah, pagi itu, kinar bangun dengan mata penuh belek. Dalam batin saya bergumam, jangan-jangan di lil princes kena sakit mata. Kecurigaan ini berdasar karena banyak anak tetangga yang juga terkena penyakit ini. Lebih lagi, asisten yang membantu di rumah, anaknya juga kena belekan.
Cuma, si kinar cuek saja dengan belekannya ini. Dia tidak merasakan nyeri atau apapun. Santai saja, dia bangun dari kasur. Seperti biasanya, dia lalu meminta cuci muka.
“Biar segar….,’ begitu kata dia selalu. Habis cuci muka, dia pun meminta segelas air putih. Begitu rutinitas saban pagi, sebelum kami ‘ribut’ menyiapkan keberangkatan dia ke sekolah.
Usai beleknya bersih, kinar bergegas ke meja makan. Minum air putih terus merengek meminta coco crunch..dengan segelas susu UHT low fat and non sugar…. Dari acara sarapan pagi itulah, saya bisa melihat dengan jelas kelopak matanya yang sedikit membengkak.
Si ayah langsung mengungkapkan kekhawatirannya kalau kinar bener-bener belekan
“Ke dokter bun…., biar enggak nular ke mana-mana,”
Sok kalem, saya bilang; “Iya, liat nanti seperti apa.”
Setelah semua beres, dan si adik berangkat sekolah, saya pun bergegas membuka jendela dunia, internet. Tujuannya tentu mencari tahu tentang belekan.
Terus terang, saya memutuskan untuk menjadi orang yang enggak panikan kala tahu si adik sakit. Saya menahan diri untuk sebentar-bentar pergi ke dokter coz anak sakit. Satu hal yang saya pelajari dari berbagai milis, dan favoritku milis sehat adalah observasi dulu, sampai kita yakin pencetus sakit si adik.
Pun begitu dengan sakit mata. Saya juga tak langsung panic untuk buru-buru ke dokter, atau pergi ke apotik untuk membeli obat tetes mata atau salep. Tidak, saya ingin melakukan observasi atas sakit mata kinar. Maklum, dari ubek-ubek milis dan internet, saya tahu obat tetes mata sejatinya adalah antibiotik. Dan, apapun namanya antibiotik bila masuk dalam tubuh bisa bermutasi menjadi penyakit lain yang lebih berbahaya. Serem kan. Dan, pada dasarnya obat tetes mata berisi antibiotik yang bersteroid. Celakanya, steroid punya efek samping yakni bisa menyebabkan glukoma.
Berbekal dari situ, hal pertama yang gue lakukan saatkinar sakit mata adalah bertanya ke dia
“de’, matanya sakit enggak.”
“Enggak bun,”
“Coba pakai nunduk,”
“Enggak juga, bun,”
Tenanglah hati ini. Artinya, si adik tidak merasa sakit. Kedua, saya periksa kelopak matanya…aih tidak terlalu merah….. Ini menguatkan saya untuk bertahan melakukan observasi lebih lanjut atas belekan kinar. Apalagi, aktivitas harian si adik ini juga seperti biaya, ceria. Pun dengan makannya, lahap.
Dari hasil ubek-ubek internet, penyakit mata itu pada dasarnya ada tiga penyebabnya. Yakni karena virus, bakteri atau alergi. Tidak mudah mendeteksi penyebab ini. Cuma cara lazim yang banyak dipakai adalah dari tahi mata atau belek. Jika putih bening, kebanyakan disebabkan oleh virus. Bila virus yang menjadi sebab, antibiotic jelas enggak dibutuhkan.
Jika keruh, kental dan kekuningan bisa jadi karena bakteri. Agar bakteri ini mampus, pemberian antibiotic dalam batas cerdas bisa dilakukan. Adapun kalau disebabkan karena alergi, umumnya tidak akan mengeluarkan belek. Bila alergi yang menjadi pencetusnya, lebih baik dicari alergi disebabkan oleh apa.
Bila virus yang tengah merambah mata, sejatinya obat tak banyak dibutuhkan. Yang harus sering dilakukan adalah membersihkan si belek ini dengan kapas yang diberi air hangat. Air hangat berguna untuk menenangkan mata. Bila memang terpaksa harus memberikan obat mata, di mayo, ada saran agar memberi obat mata/antibiotic topical yang tanpa steroid. Ini bisa dilihat dari kemasanya, apakah bersteroid atau tidak. Salah satu yang bisa dipakau adalah kloramfenikol.
Membersihkan mata juga tak bisa sembarangan, tapi ada caranya agar virus tak menyebar. Yakni dari ujung mata ke bagian hidung. Lakukan sesering mungkin pada si anak.
Dan, cara ini manjur lo buat si kinar. Tanpa obat tetes mata, salep, hari ketiga, si kinar bangun tanpa belek berlimpah……
Alhamdullilah

